Jumat, 12 Juni 2020

Pendidikan 1

Ada sedikit konflik kepentingan antara mahasiswa tingkat akhir dengan KPS di suatu universitas karena adanya aturan yang ditetapkan secara sepihak berlaku surut ke belakang. 

Mahasiswa tersebut merasa dirugikan karena berefek akan memperpanjang masa kuliah. Itu berdampak pada pengorbanan lebih lama, biaya hidup dan pendidikan ditengah ancaman krisis ekonomi di masa pandemi covid 19. Solusi praktisnya adalah memperpanjang beasiswa setahun jika diterima.

Ada syarat ujian tesis atau disertasi dari pedoman akademik yang diadopsi oleh sistem pendidikan perguruan tinggi tentang publikasi jurnal internasional bereputasi. Syarat ini menentukan wisuda atau tidaknya mahasiswa.

Selain jurnal internasional, bisa juga melalui jurnal nasional terakreditasi baiknsinta 1-6.

Penulis jurnal ada yang gratisan sedangkan pembacanya yang bayar. Sebagian lagi penulis jurnal membayar ke pihak publisher sementara pembacanya gratis. 

Pilihan akan ditentukan oleh mahasiswa dibawah arahan dosen pembimbing sebagai penulis jurnal.

Namun untuk publisher jenis pertama dimana penulis jurnal free proses waktunya lama bisa memakan waktu sampai 1 tahun.

Publisher jenis kedua banyak menjadi pilihan mahasiswa S2 dan S3 karena lebih cepat publikasinya meskipun mengorbankan biaya jutaan bahkan belasan juta.

Publikasi jurnal itu menjadi hak paten buat penulisnya yaitu milik bersama antara dosen pembimbing dan mahasiswa bimbingannya. 

Selain paten publikasi, jenis paten lainnya adalah paten prototype dan paten produk. 

Saya pernah membaca, dalam sistem pendidikan Islam, semua biaya pendidikan (dan turunannya) akan ditanggung negara termasuk biaya hidup.

Hak paten tak dikenal dalam Islam. Semua pihak bebas mengembangkan hasil penelitian termasuk jurnal ilmiah, prototype dan produk penelitian. Mirip dengan software komputer & aplikasi android yang free.

Contoh negara yang mengabaikan hak paten saat ini adalah Tiongkok. Bahkan saya dengar, banyak pabrik dari perusahaan negara maju yang mengadopsi kewajiban hak paten, ada disana.


Kamis, 11 Juni 2020

Dingdong 4

"Sejak musim corona, pendapatan warung sangat menurun. Dilain sisi, saya juga butuh uang 10 juta per bulan untuk bayar cicilan investasi tanah," curhat seorang Pemetik Harpa di depan jalan masuk masjid raya pasca sholat Jum'at. 

Syukurnya, cicilan itu syar'i sehingga risiko buruk sebagaimana dialami cicilan konvensional, tidak terjadi. 

"Warung lain sama?" 

"Mungkin" 

"Ketika banyak saingan maka yang dituntut adalah memperbaiki kualitas seperti mengatasi banyaknya lalat yang berisiko diare. Kenapa tidak cari di youtube cara mengusirnya?" 

Saya diam-diam membandingkan usaha warung makannya dengan rumah makan milik mantan pengusaha Ding Dong.

"Sudah dicoba beberapa cara tapi tak berhasil." 

"Kenapa warung lain lalat kurang sedangkan disini banyak?" 

Warung miliknya terletak hanya beberapa meter dari masjid di jalan utama, lokasi yang teramat strategis.

"Musiman. Lalat akan bertebaran luas terutama pada musim buah. Sekarang musim tlah berganti," kilahnya dari balik masker kain berwarna hijau.

Menu amat bervariasi, nikmat di lathi, relatif lebih murah dengan teknik penyajian prasmanan, merupakan beberapa kelebihan warung miliknya.

Pipinya tembem hingga wajah terlihat lebih bulat bagaikan rembulan. Perutnya juga semakin buncit seperti ibu hamil tua. Itu terjadi sejak doi beralih usaha dari bisnis tailor ke bisnis kuliner. 

"Tubuh chef biasanya begitu," ungkapku dengan senyuman tipis di suatu waktu.

Rabu, 10 Juni 2020

Dingdong 3

Makan pertama pasca musafir di warung depan Dermaga Cinta dengan pengelola baru. Ini cabang pertama dari warung utama langganan dekat masjid. 

Pak haji tepat memilih dan bekerjasama dengan mantan pengusaha Ding Dong yang beralih profesi sebagai pengusaha kuliner. 

Berkarakter penolong, senang melihat orang lain yang dibantunya bisa sukses, cepat belajar pada suasana baru, jujur dan amanah. 

"Saya banyak belajar meracik bahan makanan dari youtube," ujarnya suatu malam. 

Rasa enak di lathi dan mempertahankan cita rasa, syarat utama memulai bisnis makanan. 

Berikanlah nilai tambah dengan menjaga kebersihan dan meningkatkan kualitas masakan. 

Percepat faktor kali dengan membuka cabang baru. Perlebar nilai bagi dengan berbagi pengalaman dan rezeki.

Selasa, 09 Juni 2020

Moneter 1

Barusan subcribe channel youtube Pak Dahlan Iskan. Sebaran tulisan, tutur kata dan analisanya mengindikasikan dia bukanlah orang biasa. Wartawan senior yang punya pengalamam dan jaringan super luas di berbagai negara. 

Seorang pemikir tua dan tokoh pintar yang jujur memaparkan fakta dan tirai apa dibaliknya. Misalnya pertanyaan 2 pilihan, cetak uang ataukah berutang ? 

"Saya tidak memilih keduanya atau memilih keduanya dalam skala kecil. Lebih baik hidup menderita dan bekerja keras sehingga jika mencetak uang atau berutang hanya butuh sedikit. Cetak uang akan berisiko inflasi," jawabnya. 

Andaikan saja beliau atau orang-orang seperti dia memahami solusi Ideologi Islam terkait sistem moneter maka akan terjawab "cetak uang logam emas dan perak tanpa berutang." 

Negara Israel yang mayoritas yahudi dan zionis tahu hal ini sampai berani memulainya. Baru-baru ini Bank Sentral Israel mengeluarkan mata uang new shekkel terbuat dari emas. 

Nilai nominal 10 shekkel setara dengan 4 dinar emas atau 16,96 gram emas 22 karat. 

Kapankah negeri-negeri Islam atau negeri lainnya menyatukan kembali dan bertransaksi dengan mata uang dinar dan dirham yang terbukti anti inflasi ?

Senin, 08 Juni 2020

Mrs. Corona 10

Di perjalanan yang amat melelahkan, telepon seorang pemetik harpa masuk, menunjuk saya sebagai pemusik utama dalam sebuah konser online 2 hari lagi. 

Sangat berharap bukan saya pelakunya. Telpon berdering kembali saat tiba di Kota K. "Waktu mepet, tak ada pengganti," tulisnya.

Hanya satu tujuan malam itu, baring istirahat di tempat tidur sebagai musafir dua hari dua malam. Putar otak bagaimana cara menyukseskan perhelatan yang tersisa satu malam.

Minta tolong Bunga Sakura, copy paste teks sebuah lagu berjudul "Syariah Memelihara Akal, Nyawa dan Harta". Saya hanya menggubahnya sedikit. 

Di hari H, menurut komposer lagu, teramat banyak pertanyaan tertulis dari para pemetik harpa. Inilah pengalaman pertama memetik harpa secara online. Iramanya melenting syahdu.

Karena persoalan waktu, hanya 6 petikan nada yang bisa berdenting, seputar kebijakan New Normal yang terkesan tergesa-gesa dan lebih mementingkan oligarki kekuasaan. 

Saya salut malam ini di Kabupaten KK dimana kasus covid 19 nol persen tapi pemeriksaan di Dermaga Cinta lebih ketat. Petugas kesehatan mengenakan pakaian APD lengkap sesuai standar. Begitulah seharusnya, Ning Nong !

Pembanding 5

Dua hari dua malam lama perjalanan darat dan laut antar 2 propinsi. Melalui jalan sempit, terjal dan berliku. Macet 12 jam dalam kawasan pegunungan di waktu malam yang sepi, dibawah kucuran air hujan di hutan misteri. 

Truck bermuatan barang melebihi kapasitas, badan hampir terjungkal dan lehernya patah menahan beban di tikungan tajam dengan kemiringan jalan hampir 30 derajat. Menutup rapat jalan hingga tak bisa dilalui mobil, truck, bus dan mobil tanker.

Kualitas jalan miris dan kenyamanan bus bikin menangis. Fasilitas umum jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Negara Sakura dan Negara Ginseng. 

Beberapa waktu lalu, masih dalam suasana lebaran, saya bertanya kepada seorang mahasiswa S3 Ilmu Kimia yang pernah belasan hari tinggal di ibukota kedua negara itu. 

"Dari angka 1-10, Anda beri nilai berapa Tokyo?" 
"9,5" 
"Seoul?" 
"Sama 9,5" 
"+62?" 
"Hanya 4". Anjay !

Seteru 5

Terjadilah diskusi singkat dengan seorang awak kapal ferry tentang kasus tambang di Maluku Utara. BTW, anak pertamanya akan lahir bulan ini. 

"Tambang emas disana salah satu yang terbesar, perusahaan Negara C penguasanya," ungkapnya sambil berbaring di kursi barisan pertama ruangan VIP. 

"Aturan main kapitalisme, cukup memiliki saham 51% maka PT itulah dianggap sebagai pemilik. Maka negara yang punya modal banyak paling diuntungkan meskipun kekayaan alam itu berada di negara lain. Saya baru baca, emas PT. Antam berasal dari luar negeri. Beleng-belengnya kita, biji emas dibeli murah keluar lalu emas batangan hasil pengayaannya, dibeli lagi dengan harga mahal oleh negara pemilik." 

Beginilah nasib negara demokrasi tipe terjajah. Mestinya, tambang itu milik bersama rakyat dan dikelola negara melalui BUMN atau BUMD. Hasilnya dikembalikan utuh kepada pemiliknya, yaitu rakyat.