Jumat, 11 Juni 2021

BUMN 2

Inilah kali kedua, saya berkunjung ke rumahnya di sebuah cluster perumahan dalam kompleks BTN Kota M. Berlebaran di perkotaan, pengganti mudik kampung yang terlarang karena risiko penularan covid 19.

Awalnya tak tertarik ikut diskusi bersama tamu orang. Namun karena tidak ada pejantan tangguh sebagai teman cerita & adanya desakan Bunga Sakura, terpaksalah saya pergi ke teras depan. Duduk manis sambil mendengar gosip mereka bertiga.

Pembicaraan tentang seorang teman kantor yang masuk IsLam. Tertunda nikah karena surat cerai belum ada. Wanita itu telah berpisah dari suami sebelum muallaf. Tak ada istilah perceraian kecuali pisah karena kematian.

"Proses surat cerai sangat lama & mungkin tak ada. Izin pernikahan juga lebih lambat pada agama sebelumnya," ujar tuan rumah. Dia persilahkan mencicipi kue lebaran. Tersedia beberapa botol sprite & fanta, minuman yang sudah lama tak saya telan.

"Adakah hubungannya dengan istilah nikah & kawin?"

Seringkali kedua diksi itu saya dengar berbeda makna ketika bertugas di pedalamam Papua.

"Ya. Mereka kawin dahulu pakai adat lalu menikah belakangan setelah surat nikah terbit," jelas tamu 1. Dia pernah bertugas selama 8 tahun di Sorong, ibukota Papua Barat, sebagai kepala kantor cabang.

"Solusinya bagaimana?" tanya tamu 2 sambil meletakkan gelas berisi minuman bersoda. Dia berusia paling muda.

Ketiga lelaki itu sama-sama bekerja di kantor BUMN di Kota M. Tamu 1 baru-baru ini ditarik kembali ke Kota M menjadi karyawan biasa. Semakin mempersempit jarak LDR-an dengan isteri, suatu keputusan pembawa hikmah.

"Mestinya dia bisa menikah secara Islami," jawab tamu 1. Dia punya pemahaman keislaman yang lebih daripada 2 temannya. Konon banyak mengisi waktu luang di kantor dengan belajar Islam online secara otodidak.

"Bagaimana dengan paham pluralisme?"

Isme ini mengklaim semua agama harus sama. Tak boleh ada suatu agama mendominasi agama lainnya. Jika paham asing ini dipakai pada kasus ini maka masalah tak akan pernah terpecahkan.

Sementara itu, menurut banyak muallaf, diantaranya Irena Handono, Felix Siauw,
drg. Carissa Grani, MM., AAAK, Yonatan Nandar, agama itu sebenarnya tak sama.

Tentu saja, mereka yang lebih tahu perbedaan antar kedua agama sehingga rela beralih kepada agama baru dengan kesadaran sendiri setelah serius belajar hingga bertahun-tahun.

Menurut mereka, Islam bukan sekedar agama melainkan juga "way of life", memuat aturan menyeluruh dalam berbagai sendi kehidupan. Istilah kerennya, ideologi.

Pernah saya baca di Tafsir Ibnu Katsir QS al-Baqarah ayat 4, para muallaf dari ahlul kitab akan memperoleh 2 pahala karena membenarkan kitab suci otentik agama sebelumnya & meyakini ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

"Banyak umat Islam saat ini hanya mendalami ilmu fiqih daripada ilmu hikmah," kritik tamu 1. Tokoh idolanya Profesor ASY alias BS yang dominan bercorak tasawuf & agak terpengaruh paham liberalisme termasuk tafsir al-Quran metode hermeneutika.

"Fiqih apa yang anda maksud? Contohnya apa? Karena fiqih bersifat kasuistik." Saya cukup gelisah dengan simpulan identifikasi yang bersifat generalisasi.

Dia datang bersilaturahmi kemari merupakan buah dari pemikiran fiqih. Selintas, perkataan tak sesuai dengan kenyataan, alias tak nyambung.

Dia berpikir sejenak lalu berkata, "tak sedikit orang hanya mendalami sholat tapi melupakan perkara sosial."

"Namanya fiqih sosial, Islam selain membahas fiqih ritual seperti sholat, juga membicarakan perkara sosial bahkan urusan kenegaraan. Terakhir ini disebut fiqih daulah."

"Kita mesti lebih mengutamakan rasa cinta dalam pergaulan bahkan kepada semut sekalipun. Berikan mereka makanan!" tamu 1 menoleh ke sisi kiri. Pandangannya tertuju pada gerombolan semut merah berjalan beriringan dibalik kayu.

"Bagaimana dengan nasib banyak pengemis, pengamen & pak ogah di pinggir jalan?"

"Siapa paling bertanggung jawab?" tanya tuan rumah.

"Jawabannya negara jika paham fiqih daulah."

Laki-laki dewasa wajib bekerja & menanggung keluarganya. Jika tak mampu maka beralih ke ahli waris. Bila masih tak mampu maka negara tumpuan terakhir.

Senin, 24 Mei 2021

Mr. Beetle 3

Sesampai di rumah Bunga Mawar, kami disambut tuan rumah beserta tetangga terdekat. Mereka semua masih satu keluarga, om, tante, paman & bibi.

Setelah menghela napas sejenak, juru bicara keluarga membuka acara di ruangan tamu. Bertanya maksud kedatangan kami.

Kembali Pemetik Harpa memainkan senar lalu bersyair.

"Ada setangkai Bunga Mawar. Wanginya tercium hingga Kota Kendari"

"Jadi kedatangan kalian, ingin meminang anak kami?"

"Seorang kumbang ingin memetiknya"

"Kami semua disini masih punya kegiatan lain. Sekarang sudah hampir siang. Apakah Anda ingin melamar?"

"Ya, begitulah"

Tuan rumah rupanya tak terbiasa berbahasa puitis. To the point saja. Sementara Pemetik Harpa, entah bagaimana, berlagak bak penyair romantis di komunitas kampung Takalar.

Saya perkirakan kesepakatan uang panai akan alot karena latar belakang pemahaman keluarga. Akan ada berbagai syarat yang lebih memberatkan akad nikah.

Emas 7 gram sebagai mahar, uang panai 50 juta & erang-erang senilai 3,5 juta. Mahar milik isteri, uang panai biaya walimahan. Erang2 untuk keperluan isteri seperti tas, kosmetik, perlengkapan mandi, CD sampai BeHa, guys.

Setelah bersepakat, tiba-tiba orang tua di depan, berkata, "masih ada ekornya, bawa beras"

Saya melirik ke Pemetik Harpa. Dari tadi sibuk pencet2 hp. Teramat santai tanpa beban.

"Bagaimana cara bawanya dari tempat jauh di Tenggara?" Belakangan saya baru tahu, ini termasuk penolakan halus.

"Seberapa saja karena adat," kata orang tua itu lagi.

Bapak yang paling ngotot ini, kepala sekolah TK, om Bunga Mawar. Tetangga dekat di seberang jalan depan rumah.

Pemetik Harpa terdiam sejenak lalu berkata, "baiklah! 1 karung beras"

"Sudahkah disepakati keluarga wanita?" tanyaku setengah berbisik.

"Biasanya iya"

Saya kuatir, permintaan terakhir ini tidak mewakili, spontanitas saja. Namun Pemetik Harpa mengiyakan tanpa pikir panjang karena alasan penghormatan.

Acara pelamaran berlangsung cukup singkat tanpa tawar-menawar harga diri wanita sebagaimana dugaan awal. Pengalaman kedua melatto'kan pencoblangan rekayasa cinta Bunga Sakura.

Risiko pernikahan dominan adat, biasanya banyak embel-embel & syarat-syarat yang malah memberatkan. Diembedkan masuk ke dalam suatu perjanjian yang sebenarnya tak disunnahkan.

Tapi selama syarat itu tak melanggar hukum syara', saya rasa tak mengapa disepakati untuk dijalankan. Misalnya erang-erang, itukan hanya membawa barang-barang tambahan yang status hukumnya mubah.

Sedikit berbeda jika pernikahan dominan Islami. Kedua belah pihak termasuk keluarga sama-sama paham sehingga pernikahan cenderung dimudahkan.

Biaya pernikahan murah lebih utama.
Pajoge', candoleng-doleng, erang-erang & acara adat lainnyaeee ... tak ada. Lebih praktis! Walimahan juga terpisah antara pengantin & undangan laki-laki & wanita.

Saya teringat dengan pelamaran Jeng Muda di Maros, disini tak ada penampakan kepala desa & KUA.

"Oh itu beda lagi," kata Pemetik Harpa santuy.

Singkat cerita, di perjalanan pulang, saya bertanya kepada Pemetik Harpa, biang keladi perjodohan 100 pasang jombloH.

"Sesuai pengalaman, uang panai paling murah & paling mahal berapa?"

"7 juta & 100 juta"

"100 juta itu dari keluarga pejabat yang dihadiri bupati. Pernikahannya Islami."

"Bisakah pelamaran tak lanjut ke pelaminan?"

"Bisa. Di daerah E, laki2 yang saya bantu tak jadi menikah karena orang tua wanita rupanya punya calon lain."

"Pernahkah menikahkan janda?"

"Pernah 4 kali"

"Bagaimana biaya hidup anak2? Apakah ditanggung suami baru?" tanya Bunga Sakura.

"Ya"

"Tapi menurut syariah, itu kewajiban bapak biologis?" protes Bunga Sakura.

"Iya benar. Kenyataannya di banyak kasus, beralih menjadi tanggung jawab bapak tiri karena tak paham atau tak mampu. Karena itu sebelum menikahi janda, mesti tanya juga berapa anaknya."

"Bagaimana dengan uang panai?"

"Bagusnya, nilai mahar lebih dibesarkan daripada uang panai karena mas kawin menjadi harta milik isteri sedangkan uang panai akan habis percuma setelah acara"

"Saya dengar, uang panai ada yang berasal dari pinjaman ribawi bank"

"Namanya isteri cicilan," dia tersenyum.

Selasa, 04 Mei 2021

Padi 4

Kisah Nabi Yusuf AS mencontohkan bagaimana pentingnya suatu negara memiliki ketahanan pangan. Sebelum ancaman kekeringan benar2 datang, beliau sudah mengantisisapinya dengan aturan & kebijakan khusus.

Menggenjot produksi gandum selama musim hujan 7 tahun berturut-turut sehingga kuantitas produk bisa terjamin tetap eksis pada kondisi terburuk.

Mengadopsi teknik memetik gandum dengan tangkai sehingga kualitas rasa komoditas pangan mampu bertahan lama secara alamiah.

Menyimpan dalam lumbung gandum yang dibuat khusus dengan memberikan paparan suhu & kelembaban yang sesuai sehingga ini barang mampu berusia lebih panjang.

Selain produksi, distribusi pangan pokok menjadi atensi Nabi Yusuf AS. Kombinasi penukaran, jual beli, subsidi gratis warga misqueen & pencegahan monopoli gandum horang kaya. Ini sebagai jaminan konsumsi kebutuhan bahan pokok setiap warga negara, orang per orang.

Ada konflik antara kaum rohaniawan penjaga kuil VS penguasa Negeri Mesir plus Nabi Yusuf AS, seorang politikus handal & begawan ekonomi. Atas nama Tuhan adalah modus utama pemuka rohani menyedot kekayaan & memperkaya diri sendiri.

Penguasa Mesir saat itu menjadi objek dakwah hingga membenarkan ajaran tauhid lalu mengikuti Syariah yang dibawa Nabi Yusuf AS.

Meskipun kekeringan melanda 7 tahun berurutan, kekayaan negara tetap surplus sehingga komoditi sebagian dijual ke penduduk negeri tetangga, termasuk wilayah Kan'an, lokasi dakwah Nabi Ya'kub AS, ayah kandung Sang Nabi Ganteng.

Bagaimana dengan Syariah Nabi Muhammad SAW. dengan kondisi kekinian?

Setiap Nabi & Rasul mengajarkan tauhid namun memiliki syariah berbeda. Hambatan, tantangan & ancaman juga tak sama di setiap masa.

Kita merupakan pengikut ajaran tauhid Nabi Yusuf AS & Nabi Muhammad SAW namun hanya aturan syariah yang dibawa nabi terakhir, menjadi standar perbuatan setiap muslim.

Di masa sekarang pasca revolusi industri, dunia mewarisi ajaran Adam Smith, bapak ekonomi klasik kapitalisme & Karl Marx-Friedrich Engels, tokoh
sosialisme ilmiah.

Negara maju yang menerapkan ideologi ini tlah teruji mampu melahirkan berjubel produk teknologi & informasi sesuai kemajuan zaman. Revolusi industri berawal dari revolusi berpikir.

Kesuksesan produksi tak sejalan dengan distribusi. Banjirnya produk tak lantas bisa dinikmati setiap orang, terutama kebutuhan primer termasuk gandum & padi.

Ketimpangan distribusi kekayaan secara kualitatif bisa tergambar dari Koefisien Gini, ukuran kesenjangan antara pendapatan & kekayaan.

Indeks Gini berkisar antara 0 sampai 1. Bernilai 0 berarti pemerataan sempurna. Berbobot 1 berarti ketimpangan benar2 paripurna. Kurang 0,3 ketimpangan rendah, antara 0,3-0,5 moderat & lebih 0,5 tinggi.

Prinsip Pareto 20 : 80, artinya 20% horang terkaya memiliki 80% semua pendapatan penduduk, menghasilkan Rasio Gini minimal 0.6 (60%).

Pernyataan 1% seluruh populasi memiliki 50% semua kekayaan dunia. Berarti Gini Index minimal 0.49 (49%).

Bagaimana kekayaan menumpuk di suatu negara?

Tokoh kapitalisme mengajarkan kepemilikan individu. Lahirlah banyak korporasi swasta termasuk perusahaan tambang dari negara demokrasi tipe penjajah. Buka cabang di negara demokrasi tipe terjajah.

Penggagas sosialisme termasuk komunisme menyerukan kepemilikan negara. Ramai dibentuk BUMN atau perusahaan berkamuflase swasta namun menginduk ke negara lalu berekspansi ke negara demokratis terjajah.

Akibatnya, APBN negara2 koloni modern menjadi anjlok & selalu defisit. Belum lagi jebakan utang berbunga & lemahnya ketahanan moneter.

Penguatan moneter berbanding lurus dengan jumlah aset emas & perak serta berbanding terbalik dengan kuantitas cetakan uang kertas tanpa backup logam mulia (fiat money).

Di era Orde Baru, 70-80% pendapatan Negara I berasal dari pengelolaan kekayaan alam & 20-30% pajak. Pasca reformasi, disulap menjadi 70-80% pajak & 20-30% kekayaan alam. Korporasi swasta menang banyak!

APBN sehat bila mengalami surplus dimana pendapatan lebih besar daripada belanja dengan jaminan kesejahteraan, minimal makanan pokok & kebutuhan primer, setiap orang & bukan stuck di angka rata-rata.

Sabtu, 01 Mei 2021

Padi 3

Di rumah lama, saya bersilaturahim dengan seorang pejabat pertanian di Kota M. Dialah kepala kantor andalan, lulusan S3 pertanian dari sebuah perguruan tinggi negeri terkeren sejagat Indonesia Timur.

"Bagaimana pendapat Anda terkait penggunaan tanaman bunga matahari & bunga kosmos untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian?"

"Belum tahu. Cara itu tidak diadopsi di pertanian sini. Kita masih mengandalkan penggunaan 3 pupuk, urea, TSP & KCl"

Saya menceritakan pengalaman singkat melintasi himawari no sato saat berada di Miyazaki Jepang. Kilauan bunga matahari seakan tersenyum hangat menyambut gerombolan pesepeda tangguh dari negeri asing yang jauh. Saya, Bunga Sakura, Profesor AndalanG, Jeng Shopping & Jeng Muda.

"Benarkah pupuk kimia sintetis menurunkan kualitas kesuburan tanah dalam waktu lama?"

"Sepertinya tidak jika ke-3 pupuk tadi dipakai semua. Praktek di lapangan, seringkali petani hanya menggunakan 1 jenis pupuk. Itu akan berisiko mempengaruhi kualitas tanah."

Makanan pokok masyarakat Jepang, sama dengan orang Indonesia, nasi. Bedanya ada di lathi. Beras Jepang terkenal dengan tekstur yang pulen, bersih & harum.

Berpenampilan gembrot daripada beras kita. Beras jangkung India Pakistan, briyani juga kalah banyak enaknya daripada Japonica Rice.

"Tanpa lauk sekalipun, makan nasi Jepang masih terasa nikmat," rekomendasi sensei lokal di kantornya di Kabupaten KK, sebelum saya berkunjung ke Negeri Sakura.

Beras Jepang akan diolah menjadi uruchimai & mochigome. Uruchimai adalah makanan pokok orang Jepang. Mochigome dipakai untuk membuat mochi & hidangan khusus  seperti sekihan, nasi yang dimasak dengan kacang merah.

Pemanfaatan bunga tak semua tempat memakainya. Prefektur lain di Jepang, mereka juga masih menggunakan pupuk sebagaimana di negeri I. Hanya teknik pengolahan tanahnya sedikit beda.

Ada satu pertanyaan kronis yang terngiang-ngiang bila makan nasi dari beras baru.

"Kenapa slalu lebih enak daripada beras lama?"

"Beras untuk konsumsi bisa disimpan sampai 3 bulan agar aroma & nutrisi masih bertahan baik. Lama gabah untuk bibit lebih bagus hingga 6 bulan"

"Adakah hubungannya antara ketahanan rasa dengan teknik panen?"

Saya menceritakan secara singkat serial kisah Nabi Yusuf AS dari channel youtube. Saya merasa bersalah, amat telat & abai menontonnya hingga saya & Bunga Sakura tiba-tiba bersamaan sakit aneh di suatu malam.

Lalu teringatlah mimpi tentang Nabi Yusuf AS berada disisi Nabi Muhammad SAW. Keduanya berdiri & tersenyum lalu memperkenalkan diri. Mimpi tak biasa itu terjadi sekitar 6 tahun lalu ketika bertugas sebagai dokter PTT di sebuah pulau "tepi dunia" di Kabupaten Kepulauan S.

Berhari-hari saya melihatnya, kadang begadang, sampai selesai. Rupanya, banyak kisah teladan disana. Termasuk bagaimana cara beliau mengantisipasi ancaman paceklik selama 7 tahun berturut-turut karena musim kemarau & keringnya Sungai Nil di Negeri Mesir.

Nabi Yusuf AS menyarankan disaat panen, agar biji-bijian gandum tidak dipisahkan dari tangkainya sehingga mampu bertahan lebih awet. Bulir gandum itu lalu disimpan dalam lumbung gandum khusus yang dibuat tinggi menjulang.

"Adakah hubungannya dengan daya tahan & cita rasa padi?"

"Mungkin saja. Orang-orang dahulu sebelum adanya mesin panen padi, pengetaman gabah selalu dengan tangkai. Sekarang, pemotongan jerami seperti itu, tidak ada lagi yang melakukannya. Petani tak perlu lama menyimpan beras karena sesaat setelah gabah digiling, biasanya pedagang sudah berebutan membelinya."

Jawaban sama juga diberikan seorang petani padi di Daerah T.

Ada sebuah merk dagang kurma, Palm Fruit, import dari Negeri Tunisia. Paket kurma beserta tangkai dalam kemasan kotak. Lebih mahal memang namun kualitasnya premium & jauh lebih enak daripada kurma kebanyakan.

Adakah hubungan antara kualitas beras dengan teknik pemotongan padi beserta tangkainya? Tantangan penelitian para ahli pertanian untuk membuktikan.

Allah SWT. berfirman :

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf & saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya." QS. Yusuf (12) : 7.

Padi 2

Ada keprihatinan akan trending penurunan lahan pertanian. Cetak sawah baru tak sebanyak dengan alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman. Pertumbuhan minus. Lahan-lahan produktif berubah menjadi benda-benda konsumtif.

Ini berisiko kepada penurunan ketersediaan beras sebagai bahan makanan kebutuhan pokok di banyak negara termasuk Negeri I. Namun kesedihan ini seakan diabaikan dan malah dibaca sebagai peluang bisnis oleh sepasang mata dolar para importir beras.

Pada suatu hari di Daerah T, saya bersilaturahim dengan Pak Daeng, seorang petani polos, amanah & jujur.

"Apakah petani sekarang masih bisa untung?" tanyaku gelisah.

"Ya," jawabnya mantap.

Kami berdua lalu berhitung perkiraan laba bersih petani rata-rata per 1 hektar sawah.

"Hmmm. Lumayan buat tambahan income rumah tangga keluarga," celotehan lidah yang meleleh.

Biasanya, kebiasaan orang berpikir pendek dan tak mau repot, lebih suka menjual aset daripada mengelolanya menjadi lahan hidup.

"Berapa harga tanah sawah jika dijual?"

"Mahal, milyaran"

"Eh, busyet juga itu barang"

Di Kota M, saya berdiskusi dengan seorang pejabat pertanian, lulusan S3. Dia mengatakan bahwa petani sekarang lebih enak karena banyak subsidi dari negara misalnya bibit, pupuk dan alat-alat pertanian.

Tentang persawahan, teringat kembali pengalaman berada di Miyazaki Jepang, sebelum datangnya serangan virus corona.

Setelah berbelanja di sebuah konbini, saya, Bunga Sakura, Jeng Muda, Profesor AndalanG & Jeng Shopping melintasi himawari no sato dengan naik sepeda ala Jepang.

Berdiri beberapa greenhouse berisi bibit padi. Disekitarnya bertebaran tanbo namun yang tumbuh bukan padi tapi bunga matahari. Bunga kembang kuning mekar berseri.

"Berguna mengembalikan kesuburan tanah," kata Profesor AndalanG.

"Di prefektur sini, bunga matahari dan bunga kosmos ditanam petani sebelum musim tanam berikutnya," ujar Jeng Shopping.

"Bunga matahari diambil bijinya untuk industri makanan ringan, kwaci matahari," tambah Bunga Sakura.

Seperti biasa, Jeng Muda berada paling belakang, tampak kecapaian mengayuh sepeda namun masih sempat ambil foto dan bikin video.

Sebelum berangkat ke Jepang, saya menemui seorang sensei lokal di Kabupaten KK. Dia berkata bahwa petani Jepang seperti layaknya orang kantoran, pakaiannya bersih-bersih.

Pertanian di Jepang menjadi kiblat utama agraria Negeri I. Banyak peserta magang dikirim kesana. Bukan mengandalkan rasa ikhlas semata tapi mereka juga tawwa sudah menerima gaji bulanan sebagai pekerja (ajir) dari pemilik lahan (musta'jir).

"Bagaimana bentuk pengelolaan persawahan disini?"

"Pemilik lahan dan petani penggarap bersepakat bagi hasil misalnya 50 : 50. Sebagian lagi pemilik lahan rela menerima berapapun karung beras semau-mau petani penggarap," jawab Pak Daeng.

"Apa yang terjadi?"

"Petani banyak melakukan kecurangan, tak sesuai bagi hasil atau jumlah karung beras dilebihkan buatnya"

"Oh ya?"

"Kadang-kadang petani penggarap tak dapat untung bahkan mengalami kerugian"

Di Kota P, saya dengar seorang pemilik lahan punya keinginan mengelola sendiri sawah tanpa melibatkan petani penggarap. Alasannya, petani penggarap selalu menang banyak.

Sepengetahuan saya, tak boleh akad kerjasama antara pemilik lahan dengan petani penggarap padi berdasarkan bagi hasil (akad muzara'ah).

Alasannya, padi bukanlah jenis tanaman muzara'ah yang boleh dibagi hasil panennya. Muzara'ah dengan bagi hasil boleh pada jenis tanaman buah seperti mangga, durian, de-el-el dan tanaman petik misalnya daun teh.

Jenis keduanya masih menyisakan akar, batang dan tangkai untuk bisa berbuah atau berdaun lagi di musim panen berikutnya. Padi berbeda, tumbuhan ini merupakan jenis tanaman cabut.

Solusinya, petani penggarap dikontrak tenaganya sekian rupiah untuk suatu pekerjaan atau selama masa tertentu. Bukan main persenan melainkan pakai angka nominal.

Jika terjadi gagal panen maka tenaga petani (ajir) tidak sia-sia karena tetap dapat gaji dari pemilik lahan (musta'jir) sesuai kesepakatan. Seluruh biaya pengelolaan ditanggung musta'jir dan semua hasil panen (keuntungan) menjadi miliknya.

Jumat, 30 April 2021

Padi 1

Polos, amanah & jujur merupakan 3 karakter diri yang dominan selama masa perkenalan.

Kepolosan terdeteksi ketika seorang pejabat legislatif meminta untuk mengurus anak sulungnya menjadi PNS. Anggota dewan itu juga berkerabat dekat dengan bupati terpilih.

Sebenarnya Pak Daeng punya "kartu truf" karena dialah salah satu tim sukses andalan.  Namun tawaran girang itu ditolak karena belum memenuhi syarat lama pengabdian, minimal 5 tahun.

"Lama kerja masih 4 tahun"

"Kenapa tak dicoba saja? Peluang lulus sangatlah besar."

"Mungkin tapi takut jika nanti ada orang lain yang mempersoalkan. Nama pejabat pilihan saya bisa ikut tercemar."

Terkenal bekerja tanpa pamrih. Pastilah amat disukai pihak yang butuh dukungan suara terutama menjelang pemilihan demokratis. Beban dana konstituen akan berkurang drastis sehingga kontestan pemenang bisa lebih fokus mengurus "bisnis besar" & pengeluaran "tak terduga" lain.

Wajahnya yang tirus memandang ke depan rumah.

"Jalan itu hasil dari dukungan saya beserta keluarga besar di kampung ini. Awalnya dijanjikan uang tapi demi menghilangkan kecurigaan pembagian dana yang tidak adil, saya memilih untuk perbaikan jalan saja"

Pekerjaan utama, petani padi. Karena sifat amanah & kejujuran, seorang pengusaha sukses memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengoperasikan traktor pertanian.

Traktor sawah buatan Tiongkok yang selalu terparkir di depan rumah itu disewakan kepada petani padi lain.

Pada suatu hari berdiskusi di rumahnya yang sederhana di Daerah T. Kami larut membicarakan masalah pertanian padi.

Ada 3 periode musim tanam padi dalam setahun. Musim tanam utama, gadu & kemarau. Masing-masing butuh waktu 3 bulan mulai tanam hingga panen. Berarti butuh waktu 9 bulan setiap tahun. Jeda 3 x selama total 75 hari sebelum masa tanam untuk persemaian benih padi.

Sumber pengairan berasal dari air waduk, sumur bor dan air hujan. Berbeda dengan keduanya, sumur bor tidak gratis. Ada biaya tambahan bahan bakar untuk menjalankan mesin pompa.

"Kami lebih memilih gas daripada bensin atau solar karena harga paling murah"

Mesin pompa kebanyakan beli sendiri. Sebagian berasal dari bantuan anggota dewan dengan harga miring setengah dari harga jual di pasaran.

Bibit padi sebagian berasal dari bantuan negara melalui Kementerian Pertanian yang disalurkan ke dinas pertanian & kelompok tani di daerah.

Saya kepo bertanya bagaimana kenyataan subsidi itu di lapangan.

"Tergantung kejujuran ketua kelompok tani mau memberikan semua atau hanya sebagian jatah kepada anggota," keluhnya.

"Berapa persen yang masih jujur?"

"Sekitar 10%. Saya lebih suka membeli sendiri bibit di pasaran daripada menunggu lama dengan jumlah & harga yang tak seberapa."

"Kenapa tak dilaporkan kepada penyuluh pertanian?"

"Salah sendiri, kenapa memilihnya?" dalih mereka.

"Bagaimana mungkin para anggota memenangkan ketua kelompok yang tak jujur?"

"Kami tak tahu sifat asli calon ketua. Biasanya, merekalah yang paling sering bicara & melakukan protes tapi setelah terpilih, kelakuannya sama saja."

Selain bibit, ada juga pupuk & alat-alat pertanian yang disubsidi. Namun tidak semua daerah & kelompok tani diberikan gratis. Sebagaimana dikatakan seorang pejabat pertanian di Daerah M.

Ada dugaan, sebagian ketua kelompok tani melakukan mark up, oknum pejabat mengambil sebagian hak petani baik berupa uang maupun barang untuk menutupi biaya kantor & kebutuhan hidup.

Seorang mantan bendahara pernah berkata bahwa kepala kantor seringkali pinjam uang demi biaya kuliah anak-anaknya.

Seorang pasien, anggota dewan Kabupaten LT, berucap di klinik, "Bagaimana bisa kami full memikirkan rakyat? Untuk pencalonan, kami harus keluarkan uang bermilyaran. Setelah terpilih, kami mesti memberikan limpahan dana kepada pemilih & keluarganya agar tak dianggap lupa diri. Belum lagi, banyaknya sumbangan termasuk untuk oknum mahasiswa, LSM & wartawan"

Di musim demokrasi, ekspektasi tak seindah realita, berisiko selalu benar. Seringkali pejabat hingga rakyat "terpaksa" tak jujur pada situasi tertentu. Malahan sikap terlalu jujur bisa berbahaya. Kesalahan sistemkah?

Minggu, 11 April 2021

Juragan 1

Dia pandai mengembangkan harta. Sejak pertama kali datang ke Pulau W sekitar 4 tahun lalu, saya seringkali melihatnya duduk lama membuat batako dan berdiri ceria menyemprot kendaraan.

Sesudah mengurusi 2 bisnis kecilnya itu, dia berpakaian sedikit rapi tanpa berdasi kupu-kupu, naik motor butut, tancap gas pergi menuju rumah sakit. Pekerjaan utamanya perawat.

Tangannya cekatan melakukan pekerjaan apa saja. Pandai bergaul & mudah diajak komunikasi. Kuat memegang prinsip & memiliki perencanaan matang terutama dalam bidang bisnis.

Pemikiran lebih terbuka. Pembelajaran dominan kinestetik. Kepribadian ekstrovert. Pandai mengamati bisnis top orang lain yang terbukti telah berhasil,  meniru lalu memodifikasinya.

Kemudian dia mencoba bisnis properti dengan membangun kamar kos-kosan. Setelah berdiri beberapa unit, saya mulai berani berinvestasi dengannya bermodalkan uang & kepercayaan.

"Saya senang tumbuh & berkembang bersama-sama dengan rekanan bisnis," ucapnya meyakinkan pada suatu hari.

Dia menyukai tawaran bisnis kerjasama model syariah. Akad Syirkah 'Inan & syarat-syaratnya sesuai dengan syariah Islam.

"Lebih adil," katanya.

Prosentase keuntungan sesuai kesepakatan dengan risiko kerugian ditanggung bersama.

Setelah berdiri semuanya, dia juga membangun 2 unit rumah sewa.

Tahun lalu dia berencana mencoba bisnis toko bangunan sehingga beberapa bulan dia mengorbankan dirinya nyambi kerja di toko bangunan tetangganya. Beli barang ke Kota K lalu membawanya ke toko bos di Pulau W.

Mestilah ada pengalaman kerja untuk memulai bisnis baru. Bukan modal asal nekat. Setelah dirasa cukup, dia berhasil mendirikan toko bangunan di awal tahun ini.

Seakan tak kehabisan akal, dia membeli mobil bekas buat bisnis sewa mobil lalu berkembang lagi menjadi jasa ekspedisi. Kini 2 unit truk terparkir di depan halaman rumah.

Perubahan nasib terasa amat cepat.

"Saya selalu menyelesaikan rencana lalu berpindah kepada rencana lainnya," ungkapnya.

Tangannya sangat ringan untuk berbagi rezeki. Salah satu ciri horang kaya.

"Agar cepat berhasil kita harus hidup royal. Kuat bagi-bagi dan lemah kali-kali bukan sebaliknya pintar kali-kali dan lemah bagi-bagi," rahasianya.

Dia rajin membicarakan bisnisnya setiap kali bertemu orang. Tanpa sadar, sebenarnya dia melakukan promosi paling efisien,  mouth to mouth.

Dua mobil ekspedisinya selalu penuh muatan dan bolak-balik Kota K dan Pulau W hampir setiap hari. Sepertinya bisnis terakhir ini paling girang karena sangat cepat mendatangkan keuntungan besar.

"Saya orang pertama Pulau W yang merintis usaha ekspedisi," klaimnya.

Dalam kapal ferry, saya berkata kepadanya, "waspadalah biasanya orang meniru & akan bermunculan kompetitor-kompetitor baru."

"Ia karena itu saya selalu menjaga kualitas pelayanan. Sebenarnya sudah ada orang lain yang mencoba tapi sepertinya gagal."

"Kenapa?"

"Dia mengabaikan keinginan pelanggan"

Terkait kompetisi bisnis, baru-baru ini saya mengatakan kepadanya bahwa menurut suatu penelitian marketing, 2 produk sama dari 2 perusahaan berbeda yang dipajang bersama-sama, itu malah akan mendatangkan calon pembeli 2 kali lipat daripada hanya menjajakan 1 produk sendiri-sendiri.

Secara psikologis, kasus pertama, calon pembeli akan berkata, "saya beli produk A atau B ya?" Sehingga hampir pasti ada salah satu produk yang terbeli.

Sedangkan kasus kedua, calon pembeli akan berkata, "saya beli produk itu atau tidak ya?" Sehingga kemungkinan tidak terbeli sangat besar.

Dia berasal dari selatan, sudah lama terbiasa hidup mandiri. Pernah merantau ke negeri M. bisnis jual beli barang kebutuhan sehari-hari di perbatasan M & I.

"Apa yang saya lakukan saat ini belumlah seberapa dengan kerasnya pengalaman disana," ucapnya.

"Ada rahasia perantau, jaga kepercayaan. Karena kalau sering menipu maka orang lain tak akan lagi mempercayai kita."

Pak Ali Murah berkomentar, "jarang ada orang yang mau berusaha seperti dia karena pekerjaan seperti itu memiliki risiko tinggi."

Besar di jalanan & bertemu dengan banyak orang dg situasi yang tak terduga. Tapi sepertinya Si Juragan sangat menikmatinya.